December 18, 2011

Observasi di SLB/B Pangudi Luhur Jakarta

Pendidikan guru menjadi tahap persiapan yang harus ada sebelum seseorang dinyatakan sebagai pendidik. Sesuai dengan tujuan pendidikan di program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Atma Jaya, menyiapkan guru yang memahami peserta didik secara mendalam, menguasai bidang studi ke-SD-an dan metode penyampaiannya, maka mahasiswa perlu mendapat gambaran mengenai kondisi riil di lapangan.
Pendidikan secara utuh tidak hanya menekankan kecerdasan akademis, namun aspek sosial, emosional dan religiusitas juga harus seimbang. Perkuliahan yang terjadi dalam kelas melatih mahasiswa secara akademis untuk memenuhi kompetensi pedagogik yang diharapkan. Sedangkan aspek lain diperoleh melalui proses berkelanjutan berdasarkan pengalaman secara langsung baik di perkuliahan maupun melalui kegiatan observasi.
Mata kuliah Belajar Pembelajaran memfasilitasi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman melalui observasi lapangan. Observasi ini merupakan kegiatan yang dilakukan mahasiswa untuk mengamati kegiatan pembelajaran yang terjadi di sekolah. Melalui observasi ini diharapkan mahasiswa memiliki gambaran konkret mengenai pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru bersama siswanya, sehingga lebih siap dan bersemangat untuk mengikuti perkuliahan sebagai modal utama menjadi guru sekolah dasar.
Observasi ini dilaksanakan di SDLB/B Pangudi Luhur Jakarta, yang beralamat di Jalan Pesanggrahan 125 Kembangan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Sekolah ini melayani anak berkebutuhan khusus dengan spesialisasi ketunarunguan yang berintelegensi normal (educabel). Cara berkomunikasinya bukan dengan bahasa isyarat melainkan bahasa oral dengan penekanan khusus dan taktil kinestetis yang dicetuskan oleh A.van Uden dari Belanda.
Diskusi yang dilakukan dengan guru menambah pengalaman tersendiri bagi penulis. Motivasi mengajar yang sangat tulus dan dijalani dengan ikhlas menunjukkan sikap kedewasaan tingkat tinggi yang layak diteladani dalam melayani sesama. Kesabaran ekstra dalam melaksanakan pembelajaran sangat menonjol, mengingat anak tunarungu memiliki keterbatasan kemampuan berbahasa. Bahasa buku menjadi sangat abstrak sehingga tugas guru menjadi lebih berat karena harus membahasakan kembali ke dalam bahasa yang lebih sederhana agar lebih mudah dipahami siswa.
Secara khusus penulis mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada Ibu Francine Avanti S., S.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Belajar Pembelajaran, sekaligus dosen pembimbing akademik yang telah memberikan kesempatan untuk melakukan observasi. Harapan penulis semoga laporan observasi lapangan ini bermanfaat bagi pihak lain yang membutuhkan dan bagi penulis sendiri untuk semakin memahami perserta didik, materi, dan metode yang dipilih. 




2 comments:

Anonymous said...

HAHAHA PAK ARII !!!

ariermawan said...

Husss.. jangan keras-keras..!

Komentar Terkini