March 29, 2024

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan CGP Modul 1.1 Refleksi Filosofis Pendidikan Menurut Ki Hajar Dewantara

Jurnal dwi mingguan merupakan bagian dari tugas Pendidikan calon guru penggerak yang harus disusun secara teratur setiap dua minggu sekali. Jurnal ini mencatat pengalaman belajar yang saya alami, temukan, dan terapkan untuk mendukung peran saya sebagai pendidik. Jurnal refleksi ini dianggap penting dalam pengembangan profesionalisme karena mendorong guru untuk menghubungkan teori dengan praktik, serta mengembangkan keterampilan dalam mengevaluasi topik secara kritis.

Pada penulisan jurnal ini, saya menerapkan model refleksi yang diperkenalkan oleh Dr. Roger Greenaway, yang terdiri dari empat langkah: 1) Peristiwa, 2) Perasaan, 3) Pembelajaran, dan 4) Penerapan. Model ini ditransformasikan menjadi 4P untuk keperluan refleksi saya selama periode dua minggu mengikuti Pendidikan guru penggerak Angkatan 10.

 

1. Fact (Peristiwa)

Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa, saya bersyukur atas karunia-Nya yang memungkinkan saya mencapai tahap Pelatihan Calon Guru Penggerak (CGP) Angkatan 10. Kehormatan tersendiri saat pengumuman kelulusan CGP Angkatan 10 ini, karena hal ini menjadi sebuah tantangan bagi saya untuk mengikuti dan menyelesaikan seluruh proses pendidikan guru penggerak selama enam bulan ke depan.


Setelah dinyatakan berhasil, ada serangkaian langkah yang harus diambil oleh calon guru penggerak untuk menindaklanjuti program ini. Sebelum memulai Pendidikan Guru Penggerak, para peserta diminta untuk mengunduh dan menandatangani pakta integritas yang sudah dimeterai, yang kemudian harus diunggah ke dalam LMS. Pada Kemudian saya mengikuti pembukaan Pendidikan Guru Penggerak secara daring melalui siaran langsung YouTube, Pembukaan Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 8 dihadiri oleh Ibu Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbudristek, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. Pada hari yang sama, dari pukul 13.00 hingga 16.30 WIB, dilaksanakan orientasi pelaksanaan Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 10 dan pengenalan Learning Management System (LMS) oleh Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) Provinsi DI Yogyakarta. Penggunaan LMS dimulai dengan mengerjakan pre-test Paket Modul 1. Setelah semua peserta memahami dan mempelajari cara menggunakan LMS, mereka melanjutkan dengan mempelajari modul 1.1 dengan alur M-E-R-D-E-K-A, yaitu Mulai dari diri, Eksplorasi konsep dengan fasilitator, Ruang kolaborasi (rukol) di ruang kolaborasi, dan setiap peserta berkolaborasi bersama kelompoknya masing-masing dengan bimbingan fasilitator yang memberikan arahan dan motivasi. Tahapan berikutnya adalah Demonstrasi kontekstual, yang dilanjutkan dengan Elaborasi pemahaman dengan instruktur pengembang modul, penyusunan tugas Koneksi antar materi, dan terakhir adalah Aksi Nyata.

LOKAKARYA ORIENTASI_PENDIDIKAN GURU PENGGERAK A.10

 Pada tanggal 23 Maret 2024, hari Sabtu, diadakan lokakarya orientasi di Gedung SMK Negeri 53 dan SMP 108 Jakarta Barat dari jam 07.00 hingga 16.00 WIB. Lokakarya orientasi ini dihadiri oleh Tim BBGP DIY, Kepala Suku Dinas Pendidikan Jakarta Barat I dan II, pengawas, Kepala sekolah di mana calon guru penggerak (CGP) mengajar, serta Pengajar Praktik. Saya merasa sangat gembira dan bersyukur karena Kepala sekolah yang hadir juga merupakan Pengajar Praktik (PP) Angkatan 10, sehingga saya berharap bisa mendapatkan dukungan penuh dari beliau untuk menerapkan pengetahuan yang saya peroleh dari Pendidikan Guru Penggerak (PGP) ini. Selama lokakarya orientasi, CGP banyak berinteraksi dengan PP dan rekan-rekan sekelompok melalui kegiatan seperti pemaparan materi, motivasi, dan diskusi kelompok.

 Pada Pertemuan Lokakarya Orientasi ini, kami sepenuhnya fokus pada pemahaman yang lebih dalam tentang identitas diri, memperluas wawasan tentang apa yang ada dan belum ada dalam diri kami, serta mengerjakan lima LK (Lembar Kerja) dan berdiskusi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam. Dengan bimbingan dari Bapak Andi Rifaih, Pengajar Praktik kami, saya merasa sangat menyenangkan mengikuti lokakarya orientasi ini, sehingga waktu yang berlangsung cukup lama terasa begitu cepat berlalu. Terlebih lagi, pengajaran dari Pengajar Praktik selalu diselingi dengan aktivitas pemanasan sehingga menjadi lebih menyenangkan. Kegiatan dimulai dengan pembuatan kesepakatan kelas, diikuti dengan presentasi harapan

Dengan mengikuti jadwal yang telah direncanakan sebelumnya, saya berhasil menyelesaikan setiap kegiatan yang telah dijadwalkan. Pengalaman pertama saya dalam mengerjakan tugas alur M-E-R-D-E-K-A, dimulai dengan melakukan refleksi kritis terhadap pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang saya tulis dan publikasikan di YouTube, dengan tautan. 


Selanjutnya, pada tahap eksplorasi konsep, kami aktif berdiskusi, memberikan tanggapan, dan bertanya satu sama lain di dalam lingkungan diskusi virtual di LMS. Pengalaman ini semakin menarik karena fasilitator kami, Bapak Susanta, responsif terhadap setiap tanggapan dan pertanyaan yang diajukan oleh para peserta CGP. Selama berada dalam tahap ruang kolaborasi, saya tidak hanya memperkuat pemahaman konsep dengan bantuan fasilitator, tetapi juga aktif berdiskusi dengan sesama peserta, yang pada akhirnya menghasilkan sebuah karya tentang "Eksplorasi Kearifan Lokal di DKI Jakarta: Berbalas Pantun". Saya kemudian diberi tugas oleh kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kami kepada fasilitator dan kelompok lainnya. Pada tahap Demonstrasi Kontekstual, saya merefleksikan pemikiran Ki Hadjar Dewantara melalui sebuah video yang saya unggah ke alamat.

Setelah melakukan demonstrasi kontekstual, saya mengikuti sesi elaborasi pemahaman bersama Instruktur Bapak Budi melalui platform G-Meet pada tanggal 26 Maret 2024, selama hampir satu setengah jam, instruktur memberikan banyak wawasan kepada saya mengenai prinsip-prinsip dasar pemikiran Ki Hajar Dewantara, serta refleksi tentang relevansinya dengan pendidikan di era abad ke-21 dan pentingnya inovasi dalam pembelajaran berbasis permainan tradisional. Proses belajar pada modul 1.1 berlanjut dengan mengunggah tugas Koneksi Antar Materi. Penyelesaian tugas Koneksi Antar Materi, penyusunan aksi nyata, dan penyusunan jurnal dwi mingguan

2. Feeling (Perasaan)

Selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 10, saya merasa gembira karena merasa seperti mendapatkan sumber energi baru yang membantu meningkatkan kapasitas dan kompetensi saya sebagai seorang pendidik. Saya selalu berupaya aktif mengikuti setiap proses pembelajaran di LMS dan selalu menantikan waktu untuk Video Conference (Vicon) karena itu merupakan kesempatan untuk berdiskusi secara langsung dan saling memperbaiki cara berpikir serta tindakan yang dapat diterapkan di kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran kita. Saya juga merasa senang atas berbagai pengetahuan dan keterampilan baru yang saya peroleh, baik dari fasilitator, pengajar praktik, maupun rekan-rekan CGP yang telah membentuk sebuah komunitas belajar di mana kami dapat saling berbagi pengalaman.


Sementara itu, saya merasa cukup lelah dalam menyelesaikan tugas-tugas di LMS karena pelaksanaan Program Pendidikan Guru Penggerak ini tidak boleh mengganggu tugas-tugas mengajar di sekolah. Waktu terus berjalan dengan cepat, dan setiap hari terasa begitu singkat. Saya merasa tertekan untuk menyelesaikan tugas-tugas tepat waktu. Selama dua minggu pertama ini, saya merasa sangat sibuk, kurangnya istirahat menjadi konsekuensi yang harus saya terima, bahkan pada hari Minggu pun, lokakarya orientasi sudah menanti. Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa kita harus menghargai waktu karena waktu terus berjalan dan tidak akan kembali lagi.

Selama dua minggu belajar modul 1.1, saya menyadari bahwa menjadi seorang guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah panggilan batin yang membutuhkan kesungguhan dan ketulusan. Dengan menerapkan prinsip-prinsip pendidikan yang diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara, yang menekankan pada pelayanan dan pengabdian kepada anak-anak, saya melihat antusiasme yang lebih besar dari siswa-siswa dalam proses belajar-mengajar. Modul ini juga mengajarkan saya untuk menjadi guru yang lebih sabar dalam menghadapi beragam karakteristik siswa yang unik. Perubahan-perubahan kecil yang saya lakukan di kelas menjadi motivasi bagi saya untuk menyelesaikan setiap langkah dalam pendidikan guru penggerak ini.


3. Finding (Pembelajaran)

Dari materi dalam modul ini, saya memahami bahwa sebagai pendidik, kita harus membimbing semua potensi alami yang dimiliki oleh anak-anak, agar mereka dapat mencapai keberhasilan dan kebahagiaan yang maksimal sebagai individu dan anggota masyarakat, dengan merujuk pada prinsip-prinsip dalam trilogi pendidikan, yaitu ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso, dan tut wuri handayani. Modul ini juga memberikan pemahaman bahwa pendidikan karakter sangatlah penting bagi perkembangan siswa, sehingga sebagai guru, saya harus memperhatikan keseimbangan antara aspek kognitif, psikomotor, dan afektif. Konsep sistem among yang memberikan kebebasan kepada siswa dalam belajar, sambil tetap memberikan bimbingan, merupakan pesan moral yang saya peroleh dari modul ini, dan itu mendorong saya untuk terus belajar dan memahami kebutuhan pendidikan saat ini.

 

4. Future (Penerapan)

Setelah menyelesaikan modul 1.1, saya bertekad untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang saya peroleh agar dapat mengelola kelas dengan lebih efektif dan memberikan pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa. Saya berencana untuk mengubah pandangan, pola pikir, dan tindakan saya yang mungkin kurang tepat dalam memahami siswa-siswa saya agar sesuai dengan prinsip-prinsip yang dipegang teguh oleh Ki Hadjar Dewantara. Saya akan berusaha menerapkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada Indonesia dengan menanamkan nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki oleh siswa. Selain itu, saya juga akan meninggalkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru karena tidak lagi relevan dengan kebutuhan belajar siswa saat ini. Saya berkomitmen untuk menjadi seorang pembelajar abad ke-21 yang siap untuk bekerja sama dengan rekan sejawat dalam upaya meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar di sekolah kami.

 

 


Komentar Terkini